
Bab Air
13 Januari 2008BULUGHUL MARAM
BAB AIR
Hadits ke-1
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْبَحْرِ: ( هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. “airnya suci dan mensucikan, halal bangkainya.” Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi’i dan Ahmad juga meriwayatkannya.
Kandungan Hadits:
- Sucinya air laut secara mutlaq
- tidak wajib membawa air yang cukup untuk bersuci walaupun mampu membawanya
- bangkai binatang laut adalah halal
- keutamaan memberikan tambahan dalam fatwa melebihi pertanyaan
- berkata imam As-Syafi’ie : “hadits ini adalah separuh ilmu thoharoh”
Hadits ke-2
وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ اَلْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ ) أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya (hakekat) air itu suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya.” Dikeluarkan oleh Imam Tiga (Abu Daud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i) dan dinilai shahih oleh Ahmad.
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Ditanyakan, wahai Rasulullah apakah engkau wudhu dari sumur budho’ah? Beliau berkata : “Sesungguhnya (hakekat) air itu suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang menajiskannya.”
Hadits ke-3
وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ اَلْبَاهِلِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ ) أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ وَضَعَّفَهُ أَبُو حَاتِمٍ
Dari Abu Umamah al-Bahily Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya kecuali apabila merubah bau, rasa atau warnanya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan didhoifkan oleh Abu Hatim.
Potongan pertama shohih & potongan kedua dhoif
- berkata an-Nawawi: “Telah bersepakat para ahli hadits atas kedhoifannya, karena di sanadnya terdapat seorang bernama Rusydin bin Sa’d telah disepakati atas kedho’ifannya. Ibnu Hibban menukil dalam shohihnya, ijma’ untuk mengamalkan maknanya.”
Faedah hadits ke -2 & 3
- bahwasanya hukum asal air adalah suci tidak ada sesuatupun yg menjadikannya najis
- apabila air terkena najis dan tampak bau, rasa atau warna, maka najis itu menjadikan air tersebut najis